SCHOOL FROM HOME OR STRESS FROM HOME?
- Ayu Tresna

- Nov 14, 2020
- 2 min read
Updated: Apr 5, 2021
SFH
(a.k.a School From Home, a.k.a Stress From Home)
THE 9th MONTH OF PSBB / QUARENTINE
Ketika kita sudah hampir 10 bulan melakukan mayoritas aktivitas di rumah, 24 jam Bersama anak anak dan keluarga, tidak bisa dihindari munculnya konflik, perasaan tidak nyaman dan berbagai halangan untuk hidup lebih tenang.
Stress yang dihadapi setiap orang berbeda, dan cara setiap orang terutama anak anak dalam menghadapinya pun berbeda.
Dalam dunia yang ideal semua orang akan saling mengerti dan memahami bahwa dalam kondisi keterbatasan seperti saat ini setiap orang memiliki permasalahan masing masing, kita hanya perlu mengerti bahkan diberikan emphaty.
Stress yang pertama saya kenali pada awal pandemic adalah perasaan kuatir akan keuangan. A
pabila menghitung secara matematika maka sudah dapat diketahui bahwa pemasukan dan pengeluaran tidak akan cukup.
Kekuatiran apabila kita tidak bisa membeli bahan makanan di karenakan issue Lockdown pun mulai terasa, sedangkan uang untuk membeli bahan makanan untuk persediaan lebih juga tidak memungkinan pada saat itu.
Pada masa masa itu sepertinya banyak kebutuhan tambahan yang harus di beli masker, disinfectant, hand sanitizer, rapid test.
Saya juga dihadapkan bahwa saya jarang bersama sama dengan anak anak untuk jangka waktu yang lama, sehingga saya terkaget kaget akan sifat, perilaku kedua anak saya dan saya yakin mereka pun merasakan hal yang sama.
Mulai dari begantian tidur di ruang TV sampai akhirnya bisa sama sama tidur satu kamar lagi. Kalau ditanya kenapa sampai tidak bisa tidur satu ruangan, singkatnya energy clash yang terjadi di antara kita dimana 24 jam kita Bersama sama di ruangan yang tidak terlalu besar.
Sedangkan untuk si sulung, di pandemi ini dia mulai bersekolah di SMA, kelas 10. Beradaptasi dengan sekolah melalui online buat dia sangat menantang, dan dihadapkan pula bahwa sekolah yang baru banyak menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar, dan dia kurang begitu paham dengan Bahasa Indonesia, karena sejak kecil ada keterlambatan bicara dan disarankan menggunakan satu bahasa. Setelah satu term berlalu dan hasil raportnya tergolong baik, dia berkata bahwa “Its ok, mommy, so I got to learn Bahasa Indonesia more”. dia mengajarkan saya untuk melihat kelemahan sebagai hal yang harus kita pelajari untuk lebih baik lagi.
Singkat kata, 10 bulan sudah berlalu dan sampai saat ini kekuatiran saya tidak beralasan. Rejeki selalu cukup, kayawan bisa mendapat gaji dan semua kebutuhan dapat terpenuhi. Tentu saja kita semua berhemat dan mengecangkan ikat pinggang memilih mana yang penting mana yang bisa di tunda, sehingga pengeluaran bisa di atur dengan baik. Dikarenakan rumah saya di pinggir kota, maka tidak ada aktivitas di luar secara tidak langsung uang tol, bensin dan transportasi umum menjadi menurun.
Semoga masa pandemic ini menjadi Langkah kita untuk lebih kreatif mengelola keuangan, dapat mengambil hikmah dari semua kejadian, dan menjadi salah satu masa untuk kita mendekat diri dengan keluarga dan orang orang terdekat yang biasanya hanya kita lakukan pada saat akhir pekan
Selamat berkarya,
Universe always has our back
Everything in life is meant to be
Love & light
Ayu Tresna
14 Nov 2020




Comments