top of page

CHECKLISTNYA CINTA

Updated: Jul 21, 2022

Dulu, saya gak percaya dengan cinta dalam hubungan romatis. Dalam mencari pasangan saya lebih percaya pada checklist, di buat sedetail detailnya, yah tidak memenuhi satu dua gak papa asalkan sebagian besar ter-checklist. Cinta itu tidak nyata menurut saya, tidak dapat di pegang. Saya lebih percaya pada kulitas seseorang sesuai list saya dan commitment. Dalam keluarga ditanamkan old belief, kalau mencari pasangan minimal punya 3 kualitas: cakep, pinter, kaya dua dari tiga kualitas tersebut sudah cukup.

Faktor lain bila saya melihat ke belakang mengapa saya tidak percaya cinta. Menurut versi muda saya, cinta itu menyakitkan. Cinta monyet saya pada kelas 1 SMA meninggal mendadak, pacar pertama menulis surat putus yang panjang karena ingin masuk seminari. Sejak itu kayanya saya mulai membentengi diri dan semakin berhati hati dalam berhubungan dekat, bahasa kerennya saat itu saya sudah mengalami fear of abandon (rasa takut di tinggalkan) akibat patah hati dua kali dan tidak tahu cara menyembuhkannya. Sejak saat itu saya mulai mengikuti apa yang dikatakan sekeliling saya, lebih baik kita berpasangan dengan yang lebih menyayangi kita dari pada kita menyayangi orang tersebut.

Cukup kayanya ya, melihat lihat kebelakang. Pasti sudah tidak sabar kenapa akhirnya saya bisa suka banget sama topik, cinta. The story begin, ketika saya menyadari bahwa apabila saya tidak belajar mencintai diri sendiri dan orang lain maka saya akan hancur. Di mulai pada saat saya kehilangan pekerjaan, selalu putus di tengah jalan bila membina hubungan. Apa yang salah? Setelah melewati spiritual awakening yang cukup significant 2018 -2019. Saya mulai perlahan lahan kembali menerima dan berdamai dengan cinta yang terbesar, yaitu cinta pada diri sendiri, meninggalkan semua prasangka masyarakat untuk perlahan lahan belajar mencintai diri sendiri.

Semua manifestasi, kemudahan, rasa selalu tersupport, terlindungi semakin besar terjadi ketika saya mulai membuka hati dan menyambut cinta kedalam kehidupan saya lagi. Saya menyadari bahwa patah hati di masa lalu membuat saya menutup hati saya sehingga saya tidak bisa merasakan cinta dari diri sendiri, dari sang Pencipta dari alam semesta bahkan dari orang orang terdekat.

My first step to love adalah acceptance, penolakan akan cinta runtuh ketika saya tidak lagi menyangkal atas apa yang terjadi pada saya dan mulai menerima dengan lapang dada semua kekurangan, kesedihan, rasa malu, rasa marah dan keunggulan yang saya miliki. The moment I accept myself, that it is ok to be me, that I am not broken, that I am authentic, that I don’t need to be anyone but me. Saya merasakan shift yang sangat besar dalam energy, dalam wajah, pikiran dan perkataan. If you change from within, it will shine through. Jiwa saya hanya ingin di terima apa adanya, kehidupan saya yang tidak sempurna, ternyata banyak hikmahnya. I owned my life.

My second step to love is forgiveness, yang saya maafkan adalah diri saya, saya memaafkan diri saya atas semua yang saya lakukan di masa lalu, saya memaafkan diri saya untuk semua keputusan yang saya buat dan menyakini bahwa keputusan tersebut sudah sebaik baiknya pada waktu itu, dimana pengetahuan saya terbatas dan pada detik itu saya menerima bahwa itu lah yang terbaik yang bisa saya buat. Saya memaafkan diri saya dan orang orang lain, karena mereka hanya sebagai pembawa pesan atas apa yang harus saya saya perbaiki di kehidupan ini.

My third step toward love is Claimed! Bahwa yang menyakiti saya bukan cinta, tapi tuntutan saya terhadap cinta itu sendiri. Yang menyakiti saya bukan pasangan, mereka hanya tanda alam semesta atas apa yang harus saya pelajari dalam hidup ini, pembawa lessons. Yang menyakiti saya adalah expectation of what partner should be. Ketika saya mulai membedah satu persatu atas apa lessonnya dan apa blessing di balik itu semua. Saya merasa bahwa itu semua hanya suatu perjalanan kehidupan, buat saya kembali ke cinta, suatu rasa yang unconditional, sakral dan inti.

Embracing step adalah tahap terakhir ini adalah bagaimana saya memelihara agar energi saya selalu positif, saya bahkan berintensi cinta di semua aktivitas saya, apa yang saya lakukan dan katakan, bahkan marah pun intensinya karena sayang, compassion. Sejak saya memutuskan untuk mulai membuka hati, merasakan cinta apa adanya, sekitar saya pun berubah. Terutama anak anak dan para pegawai yang bekerja dengan saya, diikuti teman teman terdekat bahkan guru dari anak anak saya. Sejalannya waktu saya pun memiliki teman teman dekat yang sudah seperti saudara sendiri, dipertemukan dengan client, murid, kenalan yang satu frekwensi. Saya merasa itu semua adalah satu konfirmasi bahwa jalan yang saya tempuh adalah yg terbaik buat saya. Saya mungkin tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi menyenangkan diri saya sendiri akan terjadi apabila saya bisa mencintai, dimulai dari cinta untuk diri sendiri.

Atas nama cinta,

23 September 2021

Ayu Tresna Ekadewi

Comments


bottom of page